Kisah Kurir Mistis dan Misteri Kata "Cemilan"

 Kisah Kurir Mistis dan Misteri Kata "Cemilan"



Hari ini urat saraf saya sukses dibuat tegang maksimal. Bayangkan saja, saya baru pulang kantor dengan kondisi perut keroncongan parah karena melewatkan makan siang. Dalam kondisi menahan lapar, tingkat kefokusan saya jelas menurun drastis—istilah kerennya: gagal fokus.

Begitu sampai di depan rumah, tiba-tiba ada seorang pria pengendara motor berhenti di dekat saya. Tanpa ba-bi-bu, dia cuma mengucapkan satu kata suci:

"Cemilan."

Otak saya yang lapar langsung berputar cepat. Karena posisinya di depan rumah dan dia cuma menyebutkan nama makanan, refleks saya mengira dia ini abang-abang penjual asongan yang lagi nawarin dagangan keliling.

"Eh, ini mau ditolak?" kata si abang motor tiba-tiba.

Lho? Saya makin bingung. "Lah... emang kenapa?" tanya saya heran. Wong belum tahu dagangannya apa, kok sudah bahas tolak-menolak.

Di tengah kebingungan itu, untungnya istri saya keluar dari rumah bagaikan pahlawan kesiangan. Dengan santai dia bilang, "Oh, itu paket saya."

Jreeeng...! Ternyata itu kurir ojol!

Saya langsung membatin, “Lah, si Akang... kirain tadi nawarin jualan!”

Mendengar celetukan saya, si abang ojol malah membalas dengan pembelaan yang bikin saya makin elus dada: "Saya kan pakai jaket Grab..."

Wait, wait... di sinilah kekesalan saya langsung naik ke ubun-ubun. Sejak kapan hukum interaksi sosial di Indonesia mewajibkan kita buat memandangi seragam orang dulu sebelum melihat mukanya? Lagipula, dari awal dia cuma bilang "cemilan", bukan "permisi paket". Kalau dia cenayang sih mending, lah ini kurir!

Jika memang dia ojol resmi yang memakai atribut lengkap, bukannya aturan dari perusahaannya harus menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ramah ya? Minimal bilang begini: “Permisi Pak, saya antar paket camilan untuk Ibu/Bapak X dari toko Y.” Nah, kalau begitu kan jelas, dunia persilatan pun damai. Ini malah cuma bilang "cemilan" doang, dikira lagi main tebak kata kali ya?

Kesal karena lapar ditambah pelayanan yang ajaib, akhirnya saya tegur saja: "Akangnya harusnya bilang, ada paket buat nama ini. Terus kenapa bahas nolak? Saya udah bayar, kok dibilang nolak?"

Dari sekian banyak ojol yang sering antar makanan atau paket pesanan istri saya ke rumah, baru kali ini ketemu satu oknum yang nyeleneh dan bikin gemas sendiri. Sepertinya oknum ojol sekarang makin ke sana kemari keramahannya.

Pesan terbuka untuk pihak aplikasi ojol: Tolong bina kembali para mitranya agar tetap menerapkan SOP saat mengantar paket ke tujuan. Jangan biarkan pelanggan yang lagi kelaparan harus ikutan main kuis tebak-tebakan di depan pagar rumah sendiri!

Comments

Popular posts from this blog

Isi/makna lagu DOREMI