Posts

Showing posts with the label Puisi

Puisimu

Kami duduk Dengar tuturmu Tiru teladanmu Ikuti ucapmu Waktu bergulir Hari berganti Riang dan sepi Bagai puisi Tiba saat kami tuk pergi Pergi bukan tak kembali lanjutkan cita kami Tuk raih prestasi Terima kasih Ibu bapak guru kami Telah membekali kami Segudang prestasi

Chairil Anwar: Kepada Kawan

Kepada Kawan Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat, mencengkam dari belakang 'tika kita tak melihat, selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa, belum bertugas kecewa dan gentar belum ada, tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam, layar merah terkibar hilang dalam kelam, kawan, mari kita putuskan kini di sini: Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri! Jadi Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan, Tembus jelajah dunia ini dan balikkan Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu, Pilih kuda yang paling liar, paju laju, Jangan tambatkan pada siang dan malam Dan Hancurkan lagi apa yang kau perbuat, Hilangkan sonder pusaka, sonder kerabat, Tidak minta ampun atas segala dosa, Tidak memberi pamit pada siapa saja! Jadi Mari kita putuskan sekali lagi: Ajal yang menarik kita, 'kan merasa angkasa sepi, Sekali lagi kawan, sebaris lagi: Tikamkan pedangmu hingga ke hulu Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!! 30 November 1946 Chairil ...

Chairil Anwar: Doa

Kepada pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tak bisa berpaling 13 November 1943 Chairil Anwar Salam, Parta Winata

Dirimu yang Indah?

Senyum itu, senyum yang terlengkung keatas dengan sempurna. Menghiasi parasmu dipagi rintik-rintik.   Perlahan menyibak rambutmu yang tergerai menutup bahu. Lirikan malu sedikit tersipu kentara selintas.   Sedikit kaku, gelak tawa tertahan. Bertutur sedikit lambat tak seperti biasany.   Ah, dirimu. Jadilah dirimu, karena indahmu adalah dirimu. Salam hangat, Parta Winata

Hai

  Ayo datang dan curi aku Sembunyikan aku dihatimu Jangan biarkan aku kesepian Biarkan ku memilikimu Melihat rambutmu terurai Menatap senyuman risihmu Oh Cinta ini Membuat ku berdebar Bisa mati tanpamu Mendekatlah Bawa aku dan sembunyikan dihatimu Salam hangat, Parta Winata

Tatapmu?

Tatapan itu sedikit sinis, tendesius, dan misterius Mengkilat bak pedang Hamzah Aneh, dengan senyum melebar Tenangmu tak setenang dirimu Ada sedikit gusar, tapi bahagia Kecewa, tapi suka Entahlah Mungkin itulah dirimu Meledak tapi terkendali Indahmu tetap kentara jelas senyuman sempurna melebar Sembari menyibak rambut yang menutupi bahu Ah, pagi dan sore itu Kamu tetaplah kamu dan kamu, ya kamu Indah, dan ya terindah! Ya sudahlah! Salam hangat, Parta Winata

Dia yang telah Pergi

Mungkin karena itu Karena tetap di hati itu Atau mungkin Karena diamku Hilang perhatianku Atau hilang duniaku Atau mungkin tak menjanjikan Tak ada harapan Kau pergi Pergi secara halus Aku tangkap Pergimu secara kasar Meninggalkan luka Luka tak terobati Parta Winata, Salam hangat.

Hampa

Kesendirianku Harap Cemas Gelisah Gundah Risau Menunggu Belahan Hati Jiwa Raga Entah dimana Sungguh Rasa Hati Pikiran Mencari-cari Dirimu berada Powered by Telkomsel BlackBerry®

Renungan Indah - W.S. Rendra

dari email teman : Renungan Indah - W.S. Rendra, yg dibuat di Rumah Sakit sebelum Beliau Meninggal: oleh Dedy Yuliadi Renungan Indah - W.S. Rendra, yg dibuat di Rumah Sakit sebelum Beliau Meninggal: Seringkali aku berkata Ketika semua orang memuji milikku Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan. Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: Mengapa Dia menitipkan padaku ?? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ??. Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah? Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka? Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.. Ketika aku berd...