Seni Menertawakan Kesombongan di Hadapan Kain Kafan


 "Hidup ini panggung sandiwara yang durasinya tak menentu. Pegang imanmu erat-erat, sebelum sutradara semesta meneriakkan kata 'Cut!' yang sesungguhnya."

Pernah gak sih kalian nonton film Indonesia judulnya Malaikat Tak Bersayap? Kalau belum, coba deh sempatin nonton. Ini film dalem banget hikmahnya—itupun ya, KALAU filmnya ditayangin secara utuh tanpa digunting-gunting.
Ngomong-ngomong, ada satu misteri terbesar abad ini yang bikin gue heran tiap nonton di bioskop: Kenapa sih adegan film selalu aja ada yang dipotong? Terus, kenapa durasi film lokal kita kayak punya kesepakatan gaib, rata-rata cuma mentok di 90 menit? Kenapa sutradaranya gak ditantang bikin yang durasi 120 menit atau sekalian 180 menit ala-ala film blockbuster Hollywood?
Mungkin potongan sensor itu gak ngerusak alur cerita secara total. Tapi bagi penonton garis keras kayak gue, satu adegan yang diambil sutradara itu dirancang pakai perasaan buat ngejaga "jiwa" dan nyawa dari film tersebut. Biar getarannya sampai ke hati penonton! Alangkah indahnya kalau Lembaga Sensor kita gak hobi gunting-gunting adegan, apalagi kalau isinya bersih dari unsur SARA, seks, atau hal negatif lainnya. Tolong lah, biarkan seni itu utuh! Haha.
Waktu: Satu-Satunya Hal yang Gak Bisa Di-sensor
Nah, kembali ke filmnya. Malaikat Tak Bersayap itu ngasih tamparan keras soal arti hidup. Hidup ini roda yang berputar terus secara linier, maju ke depan tanpa rem. Waktu gak peduli mau kita lagi produktif atau lagi rebahan terpuruk meratapi nasib; dia bakal jalan terus dan ogah diputar kembali. Gak bisa diinterupsi, ditahan, ditolak, apalagi diabaikan. Makanya, Tuhan sampai bersumpah: "Demi masa/waktu...", karena waktu adalah satu-satunya entitas yang gak pernah ingkar janji.
Urat nadi cerita film ini sebenarnya simpel tapi berat: soal hidup dan kematian.
Hidup itu fluktuatif, kadang kita di atas kayak lagi dapet bonus tahunan, kadang kita di bawah banget mirip keset selamat datang. Biar kita gak gampang jantungan menghadapi badai kehidupan yang hobi mengguncang ini, kita butuh "pegangan darurat" yang namanya iman dan rasa optimis.
Tanpa dua hal itu, kita bakal gampang linglung di zaman modern yang makin konyol ini, di mana definisi bener dan salah udah gak absolut lagi akibat digoreng sana-sini oleh netizen.
Rene Descartes dan Kenyataan Lucu di Balik 'Cogito Ergo Sum'
Gue gak mau sok keren dengan minjem atau ngutip teori-teori tebal dari ribuan sosiolog dan filsuf dunia. Padahal kalau mau absen sih banyak, ada Max Weber, Rene Descartes, Miriam Budiarjo, Inu Kencana, Taliziduhu Ndraha, Kartini Kartono, Ki Hadjar Dewantara, Thomas Aquinas, Socrates, Plato, Aristoteles, Osborn, Charles Darwin, sampai sejuta ahli lainnya.
Tapi dari sekian banyak nama yang bikin kepala pusing itu, ada satu kalimat yang nempel banget di otak gue. Kalimat legendaris dari mas Rene Descartes: "Cogito ergo sum"—aku berpikir maka aku ada.
Makna kalimat ini tuh padat banget. Tapi kalau dipikir-pikir pakai logika humor, nasib manusia itu tetep aja lucu. Si Descartes mencetuskan teori itu, tapi begitu dia "berhenti sejenak untuk berpikir", eh... malaikat maut beneran datang menjemput tanpa bisa di-negosiasi lagi. Ironis sekaligus realistis!
Pada akhirnya, kematian itu bakal selalu jadi tetesan air yang berfungsi membilas dahaga kesombongan manusia.
Mau sehebat, sekaya, seberkuasa, setinggi, seganteng, sepintar, secerdas, atau semapan apa pun kamu di dunia ini—begitu dihadapkan pada kata "Kematian", semuanya bakal disamaratakan tanpa pandang bulu. Gak ada jalur orang dalam, gak ada hak istimewa.

Jadi, mumpung waktu kita masih berjalan maju dan belum dijemput takdir, yuk kita isi hidup ini pakai iman, optimisme, dan sedikit selera humor biar gak stres-stres amat! 😉 

Comments

Popular posts from this blog

Isi/makna lagu DOREMI

Tips memilih gelasan layangan.