Ketika Bapak-Bapak Kalah Telak Adu Lawak Lawan Jamet Bonceng Tiga


Kisah Nyata: Tragedi Lampu Merah dan "Anak" Berjanggut

Sore itu, perut kami sekeluarga sudah kenyang dan bahagia setelah menuntaskan misi suci: makan bakso langganan. Seperti biasa, karena jarak yang tanggung, kami memutuskan untuk melakukan aksi legendaris keluarga Indonesia: berboncengan tiga dalam satu motor.
Formasinya sudah standar internasional. Saya di depan sebagai pilot utama, anak bungsu saya yang masih kelas 2 SD anteng didekap di tengah, dan istri saya menjaga lini pertahanan di jok paling belakang. Motor melaju damai, membawa beban karbohidrat dan kuah kaldu gurih yang mulai membuat mata sedikit mengantuk.
Sampai akhirnya, petualangan kami terhenti oleh lampu merah.
Saat sedang menunggu lampu hijau dengan takzim, tiba-tiba sebuah motor matic berhenti tepat di samping kanan saya. Penumpangnya? Tiga orang pemuda tanggung usia 20-an. Formasi mereka persis sama seperti kami: bonceng tiga, bedanya mereka tidak punya beban cicilan rumah tangga.
Melihat pemandangan yang "cermin banget" ini, jiwa humor bapak-bapak saya langsung bergejolak. Insting melawak saya meronta-ronta. Saya menengok ke kanan, melempar senyum penuh keakraban, lalu berkata dengan nada mengejek yang ramah:
"Wah, kita samaan ternyata ya... Bonceng tiga, cabe-cabean..." batin saya sudah tertawa duluan, membayangkan mereka akan tersipu malu atau minimal membalas dengan tawa canggung.
Namun, anak muda zaman sekarang mentalnya memang beda.
Salah satu dari mereka yang duduk di paling belakang menengok ke saya tanpa ekspresi bersalah sedikit pun. Dengan wajah super polos dan suara yang dilembut-lembutkan, dia menjawab:
"Iya, Pak... dan ini anak kami," katanya sambil menunjuk dengan penuh kasih sayang ke arah temannya yang duduk di tengah.
Masalahnya, "anak" yang dia tunjuk itu adalah seorang pemuda bertubuh bongsor, berjaket denim, dan punya kumis tipis tipis tipis yang mulai tumbuh.
Deg.
Seketika atmosfer di sekitar lampu merah itu terasa membeku. Istri saya di belakang langsung menyikut pinggang saya menahan tawa, sementara anak bungsu saya cuma celingukan kebingungan melihat "anak" tetangga sebelah yang besarnya melebihi tinggi bapaknya sendiri.
Niat hati ingin melucu dan memosisikan diri sebagai sesama "cabe-cabean" senior, saya malah sukses di-skakmat oleh tiga pemuda yang mendadak mengadopsi teman sendiri di jalan raya. Untung saja, sedetik kemudian lampu hijau menyala. Tanpa babibu, saya langsung tancap gas sedalam-dalamnya, kabur dari kenyataan dan dari "keluarga bahagia baru" yang baru saja kami temui di lampu merah.
Sejak hari itu saya belajar satu hal: jangan pernah menantang kreativitas anak muda di lampu merah, atau Anda akan pulang membawa status baru sebagai korban shaming komedi jalanan!

Comments

Popular posts from this blog

Isi/makna lagu DOREMI

Tips memilih gelasan layangan.