Jangan Main Mata dengan Tarif, Biarkan PosIND Menang Lewat Jaringan Pelosok


Sebagai sesama generasi yang tumbuh besar ditemani aroma khas kertas surat dan perangko, jujur ada rasa hangat tersendiri waktu kurir dari Pos Indonesia (atau yang sekarang kerennya dipanggil PosIND) tiba-tiba kontak buat nawarin jemput paket. Berasa kayak ketemu temen lama yang sempat hilang kabar, lalu tiba-tiba datang lagi ke rumah dengan penampilan baru yang jauh lebih necis. Sejak aktif jualan online dari akhir 2019, keinginan buat mengaktifkan jasa kurir pelat merah ini sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu, cuma ya itu, kendala jarak ke loket terdekat sering bikin niat ini maju mundur cantik. Begitu mereka nawarin sistem pick-up langsung ke rumah pas momen Idul Fitri kemarin, rasanya kayak dikasih angin segar. Ada kebanggaan kecil sebagai bagian dari Gen-X bisa ikutan andil memperpanjang napas sejarah ekspedisi legendaris milik negara kita ini.

Tapi namanya juga bisnis digital, romansa masa lalu memang harus berbenturan dengan realita operasional hari ini. Kita semua tahu kalau urusan ongkos kirim antarpulau, PosIND kadang terasa agak berat di ongkir karena regulasi paket reguler mereka yang kaku. Padahal di luar sana, perang tarif antar-ekspedisi swasta sudah sampai di tahap menipis pinggir jurang, bikin margin para seller ikutan ngos-ngosan, belum lagi kalau harus pusing mikirin biaya retur paket. Secara data statistik industri, Pos Indonesia sebenarnya punya privilege luar biasa yang tidak dimiliki swasta mana pun, yaitu jaringan infrastruktur raksasa dengan ribuan kantor cabang yang sudah mengakar sampai ke pelosok dan wilayah terluar Indonesia. Logikanya, kalau regulasi internal mereka mau sedikit lebih lentur dan adaptif dengan skema e-commerce modern, kekuatan jaringan ini justru bisa memangkas biaya operasional gila-gilaan dan menekan harga ongkir jadi jauh lebih kompetitif tanpa perlu mengandalkan proyek kiriman dinas pemerintah melulu.
Lucunya, belakangan ini malah sempat ada wacana atau kasak-kusuk soal menaikkan tarif ongkir jasa ekspedisi. Buat kita yang setiap hari berkecimpung di dunia jualan online, kebijakan kayak begitu rasanya cuma jadi lelucon yang kurang lucu. Mau dinaikkan berapa kali pun tarifnya, kalau di balik layar ujung-ujungnya masih ada aksi "main mata" atau kongkalikong kontrak eksklusif antara korporasi ekspedisi dan raksasa e-commerce, ya tetep saja lingkaran setannya tidak akan putus. Yang kasihan dan babak belur di lapangan ya tetap para kurir yang dikejar target harian dengan insentif yang makin lama makin minimalis. Menaikkan tarif itu bukan solusi jangka panjang, melainkan cuma pengulangan kesalahan lama yang bikin konsumen jengah dan seller makin terjepit.
Untuk urusan birokrasi, utak-atik regulasi, atau hitung-hitungan rumus logistik yang njlimet, biarlah itu jadi porsinya para petinggi dan ahli di asosiasi perperposan atau perkumpulan ekspedisi sana. Tugas mereka yang digaji besar di ruang rapat ber-AC adalah duduk bareng, merembukkan solusi yang adil, dan bikin formula bisnis yang sehat tanpa harus mengorbankan kurir di garda terdepan atau mencekik UMKM. Intinya, sebagai pelaku usaha yang punya ikatan emosional kuat dengan Pos, kita sangat mendukung transformasi digital mereka lewat program jemput paket ini. Tinggal bagaimana manajemen pusatnya bisa memanfaatkan rasa cinta pelanggan setianya ini menjadi strategi bisnis yang fleksibel, lincah, dan berani bersaing sehat di era gempuran logistik modern.

Comments

Popular posts from this blog

Isi/makna lagu DOREMI

Tips memilih gelasan layangan.