Film Indonesia yang membuat saya terpukau
Beberapa hari berkutat di dunia imajinasi layar perak, seperti hanyut dalam dunia gelak tawa yang dihasilkan dari visul para sineas Indonesia dengan film berjudul, Ngebet Kawin, Kawin Kontrak, dan Kawin Kontrak Lagi.
Pemeran wanitanya yang bikin saya kesemsem dengan film ini. Tentu saja tidak lupa dengan aktornya, Ringgo, pria kelahiran Purwakarta 28 tahun silam.
Ini film-film humor jenius dan cerdas menurut saya sih, tak tahu dengan penilaian orang lain. secara obyektif, saya merasa berbangga diri karena telah menonton film-film tersebut(masih subyektif ternyata ya? Apapun itulah pokoknya).
Tentu saja, film tersebut sudah pernah ditayangkan dilayar kaca beberapa waktu lalu, sayangnya saya tidak menontonnya saja. Maklum saja, saya jarang nonton TV.
Antara Kawin Kontrak dan Kawin Kontrak Lagi, alur ceritanya tidak nyambung, tapi tak menjadi soal, yang penting filmnya dong.
Kreatifitas memang harus terus digalakkan. Penontonnya pun harus disadarkan betapa film nasional juga tak kalah dengan film asing. Lebih enak malahan gak usah membaca teks terjemahan, bukan begitu?
Saya sering kali bertanya, kenapa sih film nasional selalu saja kalah menarik dengan film asing? Bahkan tak jarang status teman-teman difacebook pun bertanya hal yang serupa. Aneh juga memang, dari segi kualitas mungkin saja sih, tapi akting para aktor kita tak kalah jauh kalau menurut saya. Dialog-dialog yang dibangun pun termasuk luar biasa baik dan mengalir dengan deras menggunakan bahasa Indonesia yang lumayan benar dan baik. Tapi pernahkah kita membayangkan jika film nasional memakai bahasa asing? Dan coba nikmati lalu rasakan sensasinya! Pastilah berbeda jauh, kenapa? Karena kita disibukkan dengan teks terjemahan, maklum bahasa asing saya lemah. Jadi lebih fokus menonton karena disingkronkan dengan kerja otak membaca, mendengarkan dan melihat. 3 aktifitas didalam otak kita bekerja. Kalau menggunakan bahasa nasional kan kita hanya mendengar dan melihat saja. Daya fokus dan konsentrasipun berbeda. Tapi tidak berlaku jika anda mempunyai intelektual tinggi. Tapi kembali lagi deh ke statistik di BPS bisa anda buka-buka lagi lebih jelasnya sih.
Oh, iya satu lagi, film seperti film Cin(t)a kok gak pernah nongol lagi sih film-film seperti itu, ataukah saya ketinggalan informasi(Maklum, didaerah saya tak ada bioskop)? Duh isi filmnya bikin saya merinding, sejuta filsafat dan puisi yang menggetarkan hati.
Tentunya banyak judul film-film lain yang saya sukai dan minati, kecuali film yang berjudul pocong atau bertemakan horror yang gak jelas juntrungannya saya sama sekali tidak menyukai.
Salam hormat selalu.
Pemeran wanitanya yang bikin saya kesemsem dengan film ini. Tentu saja tidak lupa dengan aktornya, Ringgo, pria kelahiran Purwakarta 28 tahun silam.
Ini film-film humor jenius dan cerdas menurut saya sih, tak tahu dengan penilaian orang lain. secara obyektif, saya merasa berbangga diri karena telah menonton film-film tersebut(masih subyektif ternyata ya? Apapun itulah pokoknya).
Tentu saja, film tersebut sudah pernah ditayangkan dilayar kaca beberapa waktu lalu, sayangnya saya tidak menontonnya saja. Maklum saja, saya jarang nonton TV.
Kreatifitas memang harus terus digalakkan. Penontonnya pun harus disadarkan betapa film nasional juga tak kalah dengan film asing. Lebih enak malahan gak usah membaca teks terjemahan, bukan begitu?
Saya sering kali bertanya, kenapa sih film nasional selalu saja kalah menarik dengan film asing? Bahkan tak jarang status teman-teman difacebook pun bertanya hal yang serupa. Aneh juga memang, dari segi kualitas mungkin saja sih, tapi akting para aktor kita tak kalah jauh kalau menurut saya. Dialog-dialog yang dibangun pun termasuk luar biasa baik dan mengalir dengan deras menggunakan bahasa Indonesia yang lumayan benar dan baik. Tapi pernahkah kita membayangkan jika film nasional memakai bahasa asing? Dan coba nikmati lalu rasakan sensasinya! Pastilah berbeda jauh, kenapa? Karena kita disibukkan dengan teks terjemahan, maklum bahasa asing saya lemah. Jadi lebih fokus menonton karena disingkronkan dengan kerja otak membaca, mendengarkan dan melihat. 3 aktifitas didalam otak kita bekerja. Kalau menggunakan bahasa nasional kan kita hanya mendengar dan melihat saja. Daya fokus dan konsentrasipun berbeda. Tapi tidak berlaku jika anda mempunyai intelektual tinggi. Tapi kembali lagi deh ke statistik di BPS bisa anda buka-buka lagi lebih jelasnya sih.
Oh, iya satu lagi, film seperti film Cin(t)a kok gak pernah nongol lagi sih film-film seperti itu, ataukah saya ketinggalan informasi(Maklum, didaerah saya tak ada bioskop)? Duh isi filmnya bikin saya merinding, sejuta filsafat dan puisi yang menggetarkan hati.
Tentunya banyak judul film-film lain yang saya sukai dan minati, kecuali film yang berjudul pocong atau bertemakan horror yang gak jelas juntrungannya saya sama sekali tidak menyukai.
Salam hormat selalu.

Comments
Post a Comment
Silahkan meninggalkan komentar. Salam hangat dan Terima Kasih.