Demonstrasi pedagang asongan

Disebuah terminal bus antar kota dalam provinsi, seperti biasa dalam keadaan ramai dengan para pemudik dan pendatang silih berganti dari waktu ke waktu.

Hari ini, suasana terminal bus nampak lebih ramai dengan hadirnya para demonstran, berunjuk rasa dengan membentangkan berbagai macam spanduk, yel-yel, tulisan-tulisan yang bernada sarkasitik, dan orasi yang keras dengan menggunakan sound system.

Namun, demonstansi berjalan lancar dan aman terkendali, dengan kawalan ketat pengaman dari kepolisian serta satuan pengaman terminal bersangkutan.

Dari tema orasi dapat diketahui mereka berunjuk rasa karena adanya ketimpangan dalam hal ketidakbolehan berdagang asongan di bus, seperti halnya tukang kacang, tukang tahu, tukang jeruk, tukang air minum, dan tentu saja tukang teuing diperbolehkan tanpa syarat apapun dari kondektur/sopir bus.

Seorang supir bus yang tidak ingin disebutkan namanya saat saya wawancarai. “Mereka berdagang tidak lumrah dengan pengasong lainnya, maka dari itu, saya dan rekan-rekan lainnya melarang mereka berasongan diatas bus!” sembari berlalu.

Namun para pendemonstran berdalih mereka berasongan barang halal dan seratus persen hasil karya home industry atau kerajinan rumah tangga yang seharusnya dilestarikan dan diberdayakan.

Rasa penasaran saya sebagai pewarta warga akhirnya beranjak dari sana dan pergi menemui kepala terminal bus dikantornya.

“Tentu saja supir-supir bus dan para kondektur menolak kehadiran mereka diatas bus mereka, ya karena pengasong itu ngasongin dagangan semisal Tangga bambu panjang 4 Meter, Anyaman kerai, sapu pembersih sarang laba-laba!” ujar Pak Kepala Terminal sembari tersenyum.

Humor daur ulang

Comments

Popular posts from this blog

Isi/makna lagu DOREMI