Seragam sekolah, seragamkah?
Masih mengganjal pikiran tentang seragam sekolah yang ada di tanah air, efektifkah?. Atau pertanyaan dalam pikiran ini, seragam sekolah apakah menjadikan negara ini seragam. Atau seragam sekolah menjadi kan warga negaranya satu pemahaman yang seragam. Lalu seragam sekolah apakah membawa hal yang positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air?.
Seragam sekolah, banyak negara menerapkan seragam sekolah. Dengan warna-warna pelangi menjadikan hidup disetiap belahan dipermukaan dunia.
Lalu apakah dengan seragam sekolah semua pelajar menjadi senang belajar atau tidak malu dengan status sosial mereka ataukah kita dengan tidak sengaja mengajarkan bahwa segala sesuatu harus seragam atau kita membiasakan mereka untuk seragam?.
Jepang negara yang di bom atom, sang kaisar bertanya kepada bawahannya : Ada berapa guru/pengajar yang selamat?. Begitu pentingnya pendidikan dimata pemimpin Jepang itu.
Lalu saat kita merdeka ataupun saat pembangunan berapa persen penduduk kita yang mengenyam pendidikan?. Sampai jenjang manakah mereka dari waktu kewaktu?.
SD,SMP,SMA masih mengenakan seragam dan disuapin dalam pendidikan. Disuapin dan seragam. Lalu dimanakah angka partisipasi sekolah paling besar?. SEKOLAH DASAR. Seragam merah putihnya yang melambangkan kecintaan pada tanah air yang juga melambangkan warna bendara kita.
Seragam pendidikan efektifkah?. Tidak menurut saya dengan keadaan tanah air kita. Namun setidaknya sudah mengajarkan penduduknya untuk cinta tanah air. Namun celakanya menjadikan pola pikir yang nyeleneh. Apa-apa harus seragam. Gak percaya?. Coba lihat waktu pembagian BLT dan lain sebagainya! Ingin dibagi juga kan?. Pola pikir seragam juga membuat begitu banyaknya hal-hal buruk karena pola sosial yang datar tanpa tunjangan input yang baik dari berbagai bidang penyokong bangsa. Seperti pola kepemimpinan yang hierarki.
Lalu apakah seragam sekolah menjadikan negara ini merata pembangunannya?. Tidak sama sekali. Coba berapa persen angka partisipasi di perguruan tinggi?.. mengerikan, para mahasiswa yang diajarkan untuk belajar sendiri, dengan pola pikiran sendiri. Tetap mahasiswa ingin yang seragam, karena pikirannya dari dulu sudah seragam dengan seragam sekolah dari dasar sampai sekolah menengah atas. Kemana-mana kita dihadapkan pada seragam, mau ke mana juga pasti menemukan seragam yang sama. Pegawai negeri sipil misalkan... mau kemana juga pasti itu-itu juga warna seragamnya. Jadi kita didik untuk selalu seragam, seragam dan seragam. Lalu apakah kita seragam?. Tidak sama sekali. Kita negara majemuk, kenapa tidak digali dari kemajemukan kita dengan sedikit belajar tidak seragam. Lihat para penduduk di daerah nun jauh disana?. Apakah pakaian bisa dengan mudah mereka dapatkan?. Jangan kan masuk perguruan tinggi, disekolah dasar aja tanpa pakaian, itulah kenapa para dosen gak mau mahasiswa mengenakan oblong dan sendal jepit dikelasnya, karena mereka ingin seragam. Seragam pemikirannya dengan orang lain. Ingin dihargai, seragam ingin dihormati. Lalu saya bertanya apakah para mahasiswa itu sama status sosial mereka di masyarakat sana?. Tidak sama sekali, tidak seragam. Untuk jadi mahasiswa saja mereka rela menjual sawah mereka yang sepetak dan sempit. Coba tengok di Jepang. Pesawahan masih luas dan luas sekali, karena sistem waris mereka berbeda dengan kita.
Seragam sekolah tidak membuat pemikiran kita seragam. Karena seragam harus diiringi pula pemerataan pembangunan hingga warga negara merasa keseragaman pertumbuhan pola pikir dan ekonomi sosial budaya yang lebih luas, mendorong kemandirian dan kesejahteraan, mencerdaskan. Bukan penyeragaman korupsi ataupun keseragaman kemalasan yang ada sekarang.
Kenapa negara Jepang dengan seragam sekolahnya mampu maju?. Karena warganegaranya tidak berpikir lagi nanti sore mau makan apa!. Mereka telah berpikir 10 tahun kedepan saat mereka duduk di sekolah dasar. Jauh sekali.
Seragam di negara lain tidak lah sama dengan seragam di tanah air. Seragam mereka membuat mereka hanya mengenakan saja dan memikirkan bagaimana mereka seragam dengan bangsa lain. Seragam dikita hanya membuat kita berpikir bagaimanakah seragam dengan tetangga rumah sebelah yang mempunyai makanan cukup untuk nanti sore.
Seragam kita seragam kebangsaan kecintaan tanah air yang semakin hari seragam itu semakin membuat kita ingin seragam dan disuapin.
Comments
Post a Comment
Silahkan meninggalkan komentar. Salam hangat dan Terima Kasih.